Tuesday, September 6, 2011

Mari Berkunjung Ke Museum Pos Indonesia di Bandung


Selayang Pandang

Pernah dengar tentang Gedung Sate di Bandung? Ya, sebagian besar masyarakat Indonesia pasti mengenal bangunan unik dengan atap mirip tusuk sate yang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat tersebut. Tetapi, apakah Anda tahu bahwa di sayap timur Gedung Sate berdiri sebuah museum tentang pos yang dibangun tahun 1931? Mungkin tak banyak di antara kita yang tahu, bahwa selain keunikan Gedung Sate yang sudah terkenal itu, terdapat obyek wisata sejarah yang tak kalah menariknya untuk kita kunjungi, yakni Museum Pos Indonesia.
Museum Pos Indonesia dapat dikatakan merekam perjalanan sejarah layanan pos di Indonesia sejak jaman kolonial hingga Indonesia merdeka. Gedung yang digunakan sebagai museum tersebut dibangun sekitar tahun 1920 oleh arsitek J. Berger dan Leutdsgebouwdienst, dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissans. Sejak 1933, gedung seluas 706 meter persegi ini kemudian difungsikan sebagai museum, dengan nama Museum Pos Telegrap dan Telepon (seringkali disingkat Museum PTT) .
Meletusnya Perang Dunia II dan masa Pendudukan Jepang pada tahun 1941 menyebabkan museum dengan koleksi berbagai benda-benda pos dari seluruh dunia ini tidak terurus. Bahkan sejak masa revolusi kemerdekaan hingga awal akhir 1979 Museum PTT makin tak terperhatikan. Baru pada awal 1980, Perum Pos dan Giro membentuk sebuah panitia untuk merevitalisasi museum agar berfungsi kembali sebagai sarana untuk memamerkan koleksi benda-benda pos dan telekomunikasi. Ikhtiar ini membuahkan hasil dengan diresmikannya museum tersebut pada Hari Bhakti Postel ke-38, yakni tanggal 27 September 1983 oleh Achmad Tahir, Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi ketika itu. Museum ini diberi nama Museum Pos dan Giro, mengikuti nama perusahaan milik pemerintah yang membawahi museum tersebut


Museum Pos Indonesia tampak samping
Perubahan nama kembali terjadi di tahun 1995, ketika nama Perum Pos dan Giro berubah menjadi PT Pos Indonesia (Persero). Nama Museum Pos dan Giro menyesuaikan dengan nama baru perusahaan, menjadi Museum Pos Indonesia. Peran dan fungsi museum ini juga makin berkembang. Tak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi, museum ini juga menjadi sarana penelitian, pendidikan, dokumentasi, layanan informasi, serta sebagai obyek wisata khusus .
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang makin memudahkan pengiriman pesan, baik melalui jaringan internet maupun telepon seluler, membuat layanan pos makin kurang diminati. Surat menyurat maupun pengiriman kartu pos kini seolah telah ketinggalan jaman. Oleh sebab itu, keberadaan Museum Pos Indonesia makin penting untuk memperlihatkan perkembangan teknologi pengiriman pesan dan barang dari jaman awal perusahaan pos pada tahun 1930-an hingga layanan terkini. Koleksi yang dipamerkan tak hanya sebatas perangko maupun kartu pos, melainkan juga diperluas dengan memerkan berbagai peralatan pos, buku-buku, serta visualisasi dan diorama kegiatan pengeposan. Dengan perluasan benda dan koleksi museum, menjadikan museum ini sebagai museum pos yang cukup lengkap menceritakan sejarah perusahaan pos di Indonesia.

Keistimewaan

Museum Pos Indonesia sangat cocok bagi Anda para pegila filateli, sebab museum ini memiliki sekitar 50 ribu lembar perangko dari sekitar 178 negara di dunia. Koleksi yang begitu kaya tersebut dikumpulkan sejak museum ini didirikan, yakni 1933 hingga sekarang. Selain dapat menikmati koleksi berbagai perangko, pengunjung juga dapat melihat benda-benda pos lainnya yang sarat akan nilai sejarah.
Di lantai pertama misalnya, wisatawan akan langsung disambut oleh pameran berbagai perlengkapan karyawan sejak jaman kolonial hingga sekarang. Di ruang pameran ini Anda dapat membandingkan perkembangan pakaian dinas karyawan pos, juga peralatan-peralatan pos yang sudah terlihat sangat kuno. Salah satu yang menyolok mata adalah patung tokoh pos Indonesia, yaitu Mas Soeharto. Mas Soeharto merupakan tokoh pos yang hilang karena diculik oleh Belanda. Patung tersebut menjadi salah satu upaya menghargai tokoh pos yang banyak berjasa pada perkembangan layanan pos di Indonesia ini.



Patung tokoh pos Indonesia, Mas Soeharto

Masih di lantai pertama, wisatawan juga diperlihatkan berbagai alat seperti timbangan surat, timbangan paket, kantong pos, stempel pos, kendaraan pengantar surat, serta peralatan-perlatan pos tempo dulu lainnya. Ada juga semacam replika yang menggambarkan para pegawai pos yang sedang bekerja. Penggambaran melalui replika ini sangat membantu untuk mengetahui seperti apa proses layanan pos pada jaman dahulu hingga sekarang. Sementara di sudut-sudut ruangan ditampilkan pula gambar-gambar proses pembuatan prangko, pencetakannya, hingga siap digunakan oleh konsumen.

Selain lantai pertama, ruang pamer lainnya adalah di lantai bawah tanah (basement). Di tempat inilah para pelancong dapat menyaksikan berbagai koleksi perangko dari berbagai negara. Perangko-perangko ini ditempatkan di dalam lemari-lemari dari kaca yang disebut vitrin. Susunan lemari ini berderet dari koleksi terkuno hingga koleksi terkini, dengan kategori perangko yang mengacu pada negara asal perangko tersebut diproduksi. Dari sekitar 50 ribu koleksi perangko, beberapa kelompok koleksi sengaja diberi pengaman khusus, seperti palang besi dan dikunci. Hal ini mengingat koleksi-koleksi tersebut terbilang kuno dan langka, sehingga jika dinilai dengan nominal uang, maka nilainya akan sangat mencengangkan. Bisa mencapai miliaran rupiah. Untuk menyaksikannya, wisatawan pun secara khusus harus didampingi petugas .

Vitrin tarik yang memamerkan koleksi perangko dari berbagai negara

Koleksi di dalam Museum



Koleksi di dalam Museum

Sebagian besar koleksi perangko istimewa di museum ini memang berasal dari Belanda. Hal ini tidak begitu mengherankan, sebab sedari awal museum ini memang didirikan oleh perusahaan pos milik Belanda. Meski demikian, tidak berarti Museum Pos Indonesia abai untuk memperlihatkan sejarah perangko dunia. Salah satu koleksinya berupa lukisan perangko pertama di dunia yang disebut "The Penny Black". Perangko ini bergambar kepala Ratu Victoria dan diterbitkan pertama kali tahun 1840. Di samping lukisan perangko pertama itu, dipajang pula gambar Sir Rowland, pencipta perangko pertama tersebut yang semula merupakan pekerja di Dinas Perpajakan Inggris. Dalam keterangan yang tertera di museum, kita bisa tahu ternyata pada awalnya biaya pengiriman surat ditanggung oleh si penerima. Namun, sistem ini akhirnya dihentikan dan diganti karena pernah terjadi kasus penerima surat yang menolak membayar biaya pengiriman surat.
Selain sejarah perangko pertama di dunia, ada juga perangko pertama di Indonesia. Bentuknya bukan lukisan, melainkan perangko asli. Perangko yang terbit pada 1 April 1864 ini berwarna merah anggur dengan gambar Raja Willem III. Harganya ketika itu sekitar 10 sen
Berbagai peralatan pos pada jaman dulu juga dipamerkan di lantai bawah tanah ini, misalnya berbagai macam bentuk bis surat yang dikumpulkan dari seluruh Nusantara. Kemudian ada juga gerobak besi kuno yang dahulu digunakan untuk mengangkut surat dari kantor pos ke stasiun kereta api. Sementara peralatan yang lebih modern adalah sebuah mesin penjual perangko otomatis. Namun sayang, mesin ini sudah rusak.
Koleksi lainnya yang juga cukup bernilai adalah poset-poster surat emas (golden letter). Poster-poster ini merupakan replika surat-surat kuno yang dibuat pada zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti Mulawarman, Sriwijaya, Tarumanegara, dan Majapahit. Meskipun disebut surat emas, namun pada kenyataannya gambar poster tersebut tidak lagi menunjukkan kilau emas pada goresan huruf-hurufnya. Hal ini karena usia surat tersebut telah berabad-abad, sehingga ketika dibuat replikanya tidak lagi menunjukkan warna kemilau emas.

Lokasi
Museum Pos Indonesia terletak di sayap timur Gedung Sate, tepatnya di Jalan Cilaki, nomor 73, Bandung, Indonesia. Bangunan museum menyatu dengan Kantor Pusat PT Pos Indonesia.

 Akses

Museum Pos Indonesia terletak di pusat kota Bandung, sehingga memudahkan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat ini. Wisatawan dapat memulai perjalanan dari Kota Jakarta. Jarak antara Jakarta – Bandung terpaut sekitar 180 kilometer. Dari Jakarta, wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Apabila menggunakan kendaraan umum, wisatawan bisa memilih menggunakan jasa kereta api atau menggunakan bus umum. Sesampainya di stasiun kereta api atau di terminal di Kota Bandung, Anda dapat memanfaatkan angkutan kota atau taksi menuju Gedung Sate. Dari Gedung Sate, Anda tinggal melangkahkan kaki menuju sisi timur gedung. Ada papan petunjuk kecil menuju museum ini. Jika bingung, Anda dapat bertanya kepada satpam atau pegawai di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Museum buka setiap hari dari Senin – Minggu pukul 09.00 – 16.00 WIB. Pada hari libur nasional museum ini tutup. Jika wisatawan ingin berkunjung dengan rombongan dalam jumlah besar, sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada pengelola museum melalui telepon 022-420195, pesawat 153. Konfirmasi kunjungan ini penting supaya pelayanan pengelola museum tetap maksimal.

 Harga Tiket
Wisatawan yang berkunjung ke Museum Pos Indonesia tidak dipungut biaya (gratis).

 Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Museum Pos Indonesia telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti ruang pameran tetap, ruang perpustakaan, ruang gudang koleksi, ruang bengkel atau reparasi benda-benda koleksi, serta ruang administrasi. Selain itu, pengunjung Museum Pos Indonesia juga dapat meminta para petugas untuk mendampingi kunjungan, sehingga kunjungan Anda dapat lebih maksimal.

sumber

No comments:

Post a Comment